| ARTIKEL ASLI |
|---|
| NEVUS SPITZ |
| Karunia Burhanudin Lubis dan Triana Agustin |
| Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Indonesia/RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo |
| ABSTRAK |
Nevus Spitz adalah tumor melanositik jinak yang pertama kali diperkenalkan oleh Sophie Spitz pada tahun 1948. Nevus Spitz sering ditemukan pada anak-anak dan jarang ditemukan pada dewasa. Nevus Spitz sukar dibedakan dengan melanomakarena gambaran klinis dan histopatologik dapat tumpang tindih. Gambaran klinis nevus Spitz adalah papul atau nodus berbentuk seperti kubah dengan diameter ≤ 6mm dan gambaran histopatologik berupa proliferasi melanosit yang berukuran besar, berbentuk epiteloid dan atau spindel, tersusun dalam sarang-sarang (fascicle). Sarang-sarang tersebut mempunyai ukuran dan bentuk relatif seragam. Walaupun demikian, dapat ditemukan gambaran histopatologik nevus Spitz atipik yang dianggap merupakan bentuk peralihan antara nevus Spitz dengan melanoma. Nevus Spitz atipik merupakan istilah histopatologik yang digunakan untuk lesi yang tidak dapat digolongkan baik ke dalam kriteria nevus Spitz maupun ke dalam kriteria melanoma. Adanya istilah histopatologik nevus Spitz atipik ini membantu menerangkan adanya pandangan mengenai nevus Spitz yang berubah menjadi melanoma. Penggolongan penilaian risiko keganasan pada nevus Spitz atipik berguna untuk menilai prognosis dan tatalaksana. Diperlukan pendapat ahli dermatopatologi untuk menilai risiko keganasan nevus Spitz. Selain itu perlu dipertimbangkan kesesuaian antara gambaran klinis dan histopatologi, apabila ditemukan gambaran atipik nevus Spitz atipik sebaiknya dilakukan eksisi. (MDVI 2011; 38/1:49-57) |
| ABSTRACT |
Nevus Spitz is benign melanocytic tumor that is firstly introduced by Sophie Spitz in 1948. Nevus Spitz is often found in children and rarely in adults. However, differentiating nevus Spitz from melanoma is sometimes difficult due to overlaps in both clinical and histopatological appearances. Clinical appearance of nevus Spitz is dome-shape papule or nodule with diameter ≤ 6 mm while its histopatological finding is proliferation melanocytes that have large size with epithelioid or spindle shape, arranged in cluster, forming nests or fascicles. Those nests have relatively uniform shape and size. However, there is atypical Spitz nevus which is considered histopathologically as intermediate form between Spitz nevus and melanoma. Atipical Spitz nevus is a histopathological term that is used for lesion that is cannot be categorized diferentely to Spitz nevus or melanoma. This term may replect some researchers opinion that Spitz nevus may evolve to melanoma. Categorization assesment risk of carcinoma to evaluate the risk of aggressiveness may give benefits to the management of nevus Spitz. Dermatpathological expertise is needed to assess risk of malignancy of nevus Spitz, making correlation between clinical and histopatological features a must. If histopathological findings of atypical Spitz nevus is found, excisional surgery should be considered (MDVI2011; 38/1:49-57) |