Penyakit antraks merupakan bahaya laten yang perlu diwaspadai di berbagai negara karena dapat mematikan.2 Pada tahun 1990, dilaporkan satu kasus antraks kulit terjadi di Semarang.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks kulit terjadi di bulan Februari 2011 di Boyolali, Jawa Tengah. Semua pasien menderita ulkus yang tidak nyeri dengan eschar antraks serta edema yang cepat meluas, setelah kontak dengan produk sapi yang diduga terinfeksi Bacillus anthracis. Kami melaporkan enam kasus suspek antraks kulit pada empat pasien pria dan dua pasien perempuan, berusia 48 – 70 tahun. Lesi kulit diawali sebuah papul, berubah menjadi vesikel / bulla dengan edema luas, dan selanjutnya berkembang menjadi ulkus tidak nyeri dengan jaringan nekrotik hitam di bagian tengahnya (eschar) yang dikelilingi oleh massa gelatin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda klinis patognomonik, pewarnaan Gram, pemeriksaan kultur dan uji motilitas. Sesuai dengan hasil uji sensitivitas antibiotik, lima pasien diterapi dengan meropenem 3 x 500mg (I.V.) dan satu pasien dengan vancomycin 2 x 1gram (I.V.) menunjukkan hasil yang baik. Antraks kulit merupakan manifestasi klinis infeksi antraks yang paling sering terjadi dibandingkan dengan antraks inhalasi dan gastrointestinal.4 Spora antraks dapat bertahan hidup selama beberapa dekade, sehingga diperlukan penatalaksanaan yang adekuat dan kerjasama antara Pemerintah Dinas Kesehatan serta Dinas Pertanian dan Peternakan setempat untuk eradikasi kasus antraks. (MDVI 2011; 38/s: 38s - 43s)
Kata kunci: antraks kulit, eschar, kultur, uji motilitas |
Anthrax is a dangerous latent disease that should be awared in many countries because it‘s due to death.2 In 1990, it had been reported one case of cutaneous anthrax in Semarang.8 An outbreak of cutaneous anthrax occured on February 2011 in Boyolali, Central Java. The patients are suffering from painless ulcer with anthrax eschar and rapidly progressive oedema, after contact with cow‘s products that suspect infected by Bacillus anthracis. We report six cutaneous anthrax suspected cases in four male and two female patients (48 – 70 years old). The skin lesion began as a papule then became vesicle/bullae with massive oedema, and later developed into painless ulcer with central black necrotic tissue (eschar) surrounded by gelatinous mass. The diagnosis based on clinical pathognomonic sign, Gram staining, culture and motility test examination. According to antimicrobial sensitivity test, five patients were treated with meropenem 3 x 500mg (I.V.) and one patient with vancomycin 2 x 1gram (I.V.) with a good result.Cutaneous anthrax is the most common clinical manifestation of anthrax infection compared with inhalation and gastrointestinal anthrax.4 Anthrax spores can remain infectious for decades, so it needs an appropriate management and cooperation between Health Department and Agricultural and Livestock Regional Office for anthrax eradication. (MDVI 2011; 38/s: 38s - 43s)
Key words : Skin anthrax, erchar, cultur, motility test. |