Latar belakang. Infeksi virus hepatitis B (VHB) merupakan salah satu infeksi menular seksual (IMS) dengan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pemeriksaan serologik penting dilakukan karena mayoritas pasien yang terinfeksi VHB tidak disertai gejala. Wanita penjaja seks (WPS) merupakan kelompok risiko tinggi untuk tertular sekaligus sebagai sumber potensial untuk menularkan VHB. Data seroepidemiologi HBsAg pada wanita penjaja seks di Indonesia masih terbatas. Sejak ditutupnya lokalisasi pelacuran terbesar di Jakarta (Kramat Tunggak), Jakarta Barat menjadi pusat industri hiburan terbesar di Jakarta dan merupakan tempat pelacuran terselubung. Tujuan.. Mengetahui proporsi kepositivan serologik HBsAg dan beberapa faktor demografik dan perilaku seksual yang berpengaruh terhadap kepositivan tersebut pada WPS. Subyek dan Metode. Penelitian ini merupakan survei dengan disain potong lintang. Dilakukan anamnesis mengenai beberapa faktor risiko infeksi virus hepatitis B pada 80 WPS di satu klinik di Jakarta Barat pada bulan Maret 2005. Pemeriksaan serologik HBsAg dilakukan di laboratorium Patologi Klinik FKUI RSCM, menggunakan tehnik Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) dengan Vitros Immunodiagnostic Products®. Hasil. Jumlah subyek penelitian 80 orang, terbanyak berusia 21-30 tahun (52,5%), dengan pendidikan rendah (56,25%). Tidak ada satu pun subyek yang mengaku pernah di tato/tindik badan, menggunakan narkoba suntik, atau dengan riwayat hepatitis. Usia hubungan seksual pertama kali paling banyak dilakukan pada usia 16-20 tahun (70 %), jarang menggunakan kondom (48,75%), lama kerja sebagai WPS > 2 tahun (33,75%), dan jumlah tamu per minggu 1-7 tamu (62,5%). Seropositif HbsAg terdapat pada 20% subyek. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik sosiodemografik dan perilaku seksual dengan kepositivan HbsAg. Kesimpulan. Proporsi kepositivan serologik HBsAg pada WPS di Jakarta Barat adalah 20% dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik sosiodemografik dan perilaku seksual dengan kepositivan HBsAg.
Kata kunci: hepatitis B, HBsAg |
Background. Hepatitis B viral (HBV) is one of sexually transmitted infections with high morbidity and mortality. Serologic examination becomes important because majority patients are asymptomatic. Commercial sex workers (CSWs) are at risk for HBV infection and potentially infect others. In Indonesia, the seroepidemiologic data of hepatitis B among female CSWs is not sufficient. Since the biggest localization for prostitution in Jakarta (Kramat Tunggak) was closed, West Jakarta became the undercover place for prostitution. Aim. To determine the proportion of HBsAg seropositives among female CSWs and to asses the association between sosiodemographic and sexual behaviour characteristics among those seropositives. Subjects and Methods. In this cross-sectional study, anamnesis regarding HBV risk factors was conducted among 80 female CSWs at a clinic in West Jakarta in March 2005. Serologic examination for HBsAg was conducted in clinico-pathologic laboratory of dr. Cipto Mangunkusumo hospital. The immunometric technique (Vitros Immunodiagnostic Products®) was used to detec HBsAg. Results. Fifty two point five percent of 80 subjects were predominantly 21-30 years old. They are low educated (56,25%), with no one had history of tattooing/body piercing/injection drug users/hepatitis. Most subjects had their first sexual intercourse at their 16-20 year of age, 48,75% rare on using condoms, 62,5% subjects reported 1-7 clients per week, 33,75% had engaged in prostitution for a period of more than 2 years. Sixteen subjects were HBsAg seropositives. No statistical significance was found between sosiodemographic and sexual behaviour characteristic among those seropositives. Conclusions. The proportion of HBsAg seropositives among female CSWs in west Jakarta was 20%. No statistical significance was found between sosiodemographic and sexual behaviours characteristic among those seropositives.
Keywords. Hepatitis B, HBsAg |