Indonesia yang terletak di daerah tropis merupakan negara yang tidak akan bebas dari penyakit jamur kulit atau dermatomikosis. Kondisi perekonomian saat ini yang memburuk berpengaruh pada berbagai segi kehidupan, termasuk pada higiene perorangan dan lingkungan serta prioritas pemeliharaan kesehatan, akan mengakibatkan prevalensi dermatomikosis meningkat. Meskipun jenis obat antijamur makin banyak dan mudah diperoleh di pasaran, ternyata beberapa survei yang pernah dilakukan di kalangan pekerja kelas bawah dan masyarakat pedesaan menunjukkan prevalensi dermatomikosis yang cukup tinggi, terutama dermatofitosis dan pitiriasis versikolor. Memang dermatomikosis superfisialis tidak menimbulkan kematian, tetapi mempengaruhi kualitas hidup seseorang akibat rasa gatal yang mengganggu atau penampilan yang kurang baik.
Bersamaan dengan memburuknya perekonomian, meningkat pula penggunaan napza, yang berujung pada peningkatan kasus infeksi HIV/AIDS. Pada individu imunokompromais seperti pada kasus infeksi HIV/AIDS, dermatomikosis superfisialis menjadi masalah, karena bentuk kelainan yang sering menjadi tidak karakteristik, kelainan lebih luas, lebih rekalsitran terhadap pengobatan, dan kronik berulang. Sebaliknya, keadaan tersebut kadang justru merupakan petunjuk adanya kondisi imunokompromais, dan ditambah dengan anamnesis tentang faktor risiko dapat mengantarkan kecurigaan kepada infeksi HIV/AIDS. Sehingga akhir-akhir ini tidak hanya infeksi kandidosis mukosa berulang yang perlu diwaspadai sebagai petunjuk infeksi HIV/AIDS, tetapi infeksi dermatofita berulang, tidak spesifik, dan luas, perlu mendapat perhatian. Salah satu yang telah dianggap sebagai petunjuk infeksi HIV/AIDS adalah tinea unguium tipe subungual proksimal. Demikian pula dengan infeksi Malassezia spp, pada individu imunokompromais tersebut bukan pitiriasis versikolor yang banyak terjadi, tetapi folikulitis Malassezia, yang ditandai dengan gambaran klinis serupa akne vulgaris yang gatal, jarang ada komedo, dan tidak memberi respons baik terhadap pengobatan akne. Kelainan lain yang banyak ditemukan pada kasus infeksi HIV/AIDS dan dikaitkan dengan Malassezia spp. adalah dermatitis seboroik; yang umumnya kronik berulang dan berat.
Yang perlu mendapat perhatian juga adalah meningkatnya infeksi jamur sistemik, yang beberapa jenis dapat diseminasi ke kulit. Infeksi sistemik dengan diseminasi ke kulit yang banyak ditemui di Indonesia adalah histoplasmosis, diikuti dengan kriptokokosis. Keduanya memberikan gambaran kelainan kulit serupa, yakni umumnya berupa papul dan nodus tersebar diskret dengan umbilikasi di tengah serupa moluskum kontagiosum. Deteksi cepat kelainan ini dengan menemukan elemen jamur pada sediaan hapus spesimen biopsi lesi kulit, diikuti dengan pengobatan antijamur sistemik segera, akan sangat menolong mengurangi angka kematian.
Pengobatan dermatomikosis pada individu imunokompromais sering membutuhkan obat antijamur sistemik. Meskipun demikian pada kasus infeksi HIV/AIDS, pemberian obat antijamur sistemik perlu hati-hati karena umumnya pasien sedang dalam pengobatan untuk infeksi lain, antara lain tuberkulosis, toksoplasmosis, infeksi Pneumocystis carinii, dan sering dengan gangguan fungsi hepar akibat hepatitis virus.
Dengan demikian perlu ditingkatkan peran dan kewaspadaan dokter spesialis kulit dan kelamin dalam penanganan dermatomikosis yang kadang dapat merupakan petunjuk infeksi HIV/AIDS, tetapi membutuhkan pertimbangan khusus dalam penatalaksanaan. |