Vitiligo adalah suatu kelainan depigmentasi kulit yang didapat akibat tidak adanya melanosit. Penyakit ini mengenai lebih kurang 0.5 – 4% populasi di dunia. Hampir setengah dari pasien, timbul kelainan sebelum usia 20 tahun namun dapat terjadi pada semua usia.
Walaupun vitiligo tidak mengancam jiwa dan tidak memberikan gejala lain kecuali depigmentasi kulit, kondisi ini dapat menyebabkan kecacatan secara kosmetik terutama pada individu dengan kulit yang gelap. Kelainan ini dapat sangat berdampak secara psikologis sehingga menyebabkan rasa rendah diri, poor body image, dan kesulitan dalam berhubungan sosial ataupun seksual.
Sampai sekarang etiopatogenesis vitiligo belum dimengerti secara lengkap. Observasi akhir-akhir ini menduga adanya predisposisi genetik serta beberapa hipotesis yang berperan dalam patogenesisnya. Penyebab vitiligo merupakan interaksi antara faktor genetik, imunologik, neurologik, dan biokimia (antara lain sebagai respons terhadap stres oksidatif).
Oleh karena penyakitnya tetap belum dimengerti, maka banyak sekali modalitas terapi yang digunakan untuk pengobatan vitiligo seperti PUVA (oral atau topikal), PUVASOL, UVB, NBUVB, steroid intralesi maupun topikal, excimer laser 308 nm, takrolimus topikal, skin grafts dan kosmetik. Masing-masing mempunyai indikasi, efikasi, dan efek samping yang berbeda. Hasilnya seringkali tidak efektif dan tidak memuaskan.
Sampai saat ini yang merupakan masalah adalah belum ada satupun pilihan terapi vitiligo yang ditetapkan sebagai pengobatan yang paling efektif dengan cara yang paling efisien; karena keberhasilan modalitas terapi sangat bergantung pada tipe, lokasi, dan perjalanan penyakitnya yang berbeda untuk masing-masing pasien.
Kali ini MDVI akan memuat artikel menegnai vitiligo dengan beberapa permasalahannya antara lain artikel mengenai insidensnya di salah satu RS di Indonesia, artikel penelitian yang membuktikan salah satu hipotesisnya (mengenai stress oksidatif) dan artikel mengenai keberhasilan pengobatan vitiligo dengan salah satu modalitas terapi skin grafts.
DAFTAR PUSTAKA
1. Lotti T, Gori A, Zanieri F, Colucci R, Moretti S. Vitiligo: New and emerging treatments. Dermatologic Therapy, 2008; 21:110-7. 2. Whitton ME, Ashcroft DM, Gonzalez U. Therapeutic interventions for vitiligo. J Am Acad Dermatol 2008;59:713-7. 3. Rajatanavin N, Suwanachote S, Kulkollakarn S. Dihydroxyacetone: a safe camouflaging option in vitiligo. International Journal of Dermatology 2008;47:402-6. 4. Sanclemente G, Garcia JJ, Zuleta JJ, Diehl C, Correa C, Falabella R. A double-blind, randomized trial of 0,05% betamethasone vs. topical catalase/ dismutase superoxide in vitiligo. JEADV 2008;22:1359-64. 5. Gawkrodger DJ, Ormerod AD, Shaw L, Mauri-Sole I, Whitton ME, Watts MJ, et al. Guideline for the diagnosis and management of vitiligo. Br J Dermatol 2008;159:1051-76. |