Usaha manusia untuk memerangi proses penuaan kulit (skin aging) telah berlangsung sejak 3000 tahun SM, ketika bangsa Mesir Kuno menggunakan berbagai bahan alami baik berasal dari tumbuhan atau berasal dari bahan alam untuk memperbaiki kelainan-kelainan kulit yang terjadi. Dari papyrus medis yang ditemukan oleh Edwin Smith yang diduga ditulis pada 1700 tahun SM diketahui bahwa buah hemayet yang diproses melalui pemeraman, pengeringan, penumbukan, penambahan air, pemanasan, pencucian dan penambahan bahan lain digunakan sebagai bahan untuk meremajakan kulit menua. Di Yunani, pada 300 tahun SM para wanita menggunakan masker yang berasal dari racikan tumbuh-tumbuhan, dan dipakai semalaman kemudian dibilas dengan air susu untuk menghilangkan kerut. Cleopatra VII (69 – 30 SM), tidak jelas apakah sama dengan Cleopatra yang menjadi kekasih Julius Caesar, menulis buku Book on Beautification yang kemudian dikutip oleh para penulis Emporium Roma yaitu Galen, Aretaeus, Paulus, Cornelius Celcus dan Pedanius Dioscorides yang merupakan penulis buku De Materia Medica® yang terkenal dan masih digunakan sampai 15 abad kemudian. Dari buku itu tercatat penggunaan madu, akar bunga lili dan Cyprium footsalve untuk menghilangkan kerut. Konsep radikal bebas dalam penuaan (aging) mulai bergulir sejak Hartman mengajukannya tahun 1961 sebagai penyebab kerusakan membran, mitokondria, dan endoplasmik retikulum sehingga mengganggu fungsi sel. Sebagai penangkal radikal bebas yang umumnya oxygen reactive ini, dibutuhkan zat-zat yang bersifat anti-oksidan, yaitu bahan yang dengan konsentrasi kecil dibandingkan substrat yang dapat dioksidasi, mampu secara bermakna mencegah atau memperlambat oksidasi. Bahan tersebut dapat berupa vitamin (A,E,C, beta karoten, B3, B6,asam pantotenat), asam amino (arginin, argitin, lisin, triptopan, fenilalanin, tanin), asam nukleat (DNA, RNA adenosin, inosin), lipid (kolin, lesitin, skualen), atau mineral (selenium, seng, kuprum, besi, magnesium, kalsium, krom). Melasma merupakan salah satu tanda penuaan kulit yang mungkin paling sering menjadi penyebab pasien berobat karena letak lesi yang sangat terpajan dan menyebabkan berkurangnya nilai penampilan seseorang. Meskipun sudah banyak cara dan usaha untuk menanggulangi kelainan kulit ini, namun hasilnya masih belum memuaskan. Umumnya pengobatan memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang besar dan bila telah membaik dan pengobatan dihentikan, gejala selalu muncul kembali. Pengelupasan kimiawi (chemical peel) merupakan cara agresif untuk melakukan peremajaan kulit. Berbagai bahan kimia yang berasal dari alam berupa asam hidroksi alfa, beta maupun polisiklis dapat digunakan dalam berbagai konsentrasi. Resorsinol, asam trikloroasetat dan fenol dalam berbagai formulasi tunggal maupun kombinasi diajukan sebagai bahan khusus dengan nama penemunya sebagai merek paten misalnya pasta Unna, masker Letessier, solusio Jessner, formula Baker Gordon. Pelembab merupakan bahan yang diaplikasikan pada permukaan kulit untuk mengurangi penguapan air (transepidermal waterloss) dari sel-sel di permukaan kulit. Pelembab bekerja dengan cara menutup permukaan kulit (oklusif), memberikan humektan (zat yang mengikat air), memberikan zat hidrofilik (menyerap air) dan sebagai tabir surya. Dengan demikian penggunaan pelembab diyakini akan mencegah atau mengurangi lajunya proses penuaan kulit. Diharapkan penggunaan kosmetik yang umumnya mudah didapat dan relatif murah, lebih diprioritaskan bagi mereka yang telah melewati masa remaja. Penggunaan sinar Laser untuk peremajaan merupakan pilihan setelah cara-cara konvensional tidak berhasil, karena perangkat alatnya yang memerlukan biaya mahal sehingga tidak semua klinik atau rumah sakit di Indonesia mampu menyediakannya. Di negara maju yang status ekonomi penduduknya cukup, cara ini cukup popular dan berkembang pesat. Masih banyak lagi cara lain untuk menanggulangi penuaan kulit, misalnya filler, botox, hormonal dan mungkin akan ada lagi cara baru yang akan ditemukan pada masa yang akan datang. Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran akan terus berkembang dari masa ke masa sehingga hal-hal yang dilakukan untuk menanggulangi penuaan kulit saat ini, mungkin akan dianggap ketinggalan zaman pada 10 tahun mendatang.
|