Ilmu tentang neurocutaneous immunology berkembang relatif baru, namun telah diketahui peranan sistem saraf terhadap pengaturan keadaan imunitas dan inflamasi di kulit. Sudah diketahui sejak lama bahwa kondisi psikologik dan neurologik berdampak pada penyakit inflamasi kulit. Telah pula dibuktikan pengaruh hormon endokrin maupun neuropeptida, neurotransmiter, nukleotida, dan produk saraf lain terhadap sel imun dan proses imun, meski mekanisme yang mendasari belum seluruhnya dimengerti. Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan terluas dengan peran utama sebagai pertahanan tubuh. Terletak berhadapan dengan lingkungan eksternal tubuh, kulit dilengkapi sarana imunitas alami/innate, yang dapat memerankan pertahanan tubuh non-spesifik. Epidermis terdiri atas keratinosit yang berperan sebagai sawar fisik maupun sistem peringatan dini. Sel Langerhans dan sel limfosit intra-epitelial merupakan sel imun di epidermis. Sel dendritik, sel mast, dan sel T-memori antigen-positif merupakan sel imun di dermis. Stres mempunyai pengaruh meningkatkan maupun menekan terhadap sistem imun, termasuk sistem imun kulit. Rangsangan stres yang akut, yang berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam, dapat meningkatkan sistem imun, baik alami maupun didapat/adaptive, sedangkan rangsangan stres yang kronik yang berlangsung beberapa minggu bahkan bertahun dapat menekan sistem imun, juga sistem imun kulit. Rangsangan akut stres dapat menyebabkan redistribusi leukosit dari pembuluh darah ke kulit diikuti oleh peningkatan sistem imun seluler kulit, meski terjadi pula pengurangan relatif jumlah leukosit di darah perifer dan limpa yang menyebabkan penurunan fungsi imundi kedua tempat tersebut. Hal tersebut sangat jelas tampak pada psoriasis, akne dan rosacea serta dermatitis atopik yang akan mengalami eksaserbasi pada keadaan stres. Penelitian yang dilakukan menuju penemuan sarana intervensi untuk mengurangi atau menekan eksaserbasi penyakit alergi, inflamasi, dan autoimun yang dipicu oleh stres. Selanjutnya diharapkan adanya penemuan intervensi terapetik yang dapat digunakan oleh mekanisme imun-endogen tubuh untuk meningkatkan imunitas protektif saat tubuh mengalami vaksinasi, infeksi, atau penyembuhan luka. |