Dokter-dokter pada zaman Mesir kuno, Babilonia, India, Athena dan Roma banyak melakukan prosedur bedah kulit, bahkan menspesialisasikan diri dalam prosedur tersebut.1 Dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya, dermatologi bukan merupakan spesialisasi tersendiri sampai abad ke-9. Pada abad ke-19 banyak spesialis kulit awalnya adalah spesialis bedah, yang kemudian mendalami pengetahuan penyakit kulit. Pada waktu perkumpulan spesialis kulit pertama kali didirikan di Amerika Serikat di tahun 1876, sebagian besar pendirinya adalah spesialis bedah.2 Banyak dokter mendalami ilmu penyakit kulit dan penyakit genitourologi bersamaan oleh karena gejala penyakit sifilis terjadi pada kedua organ tubuh tersebut. Majalah Journal of Cutaneous and Genito-Urinary Diseases terbit pada tahun 1881-1902 dan banyak memuat tulisan-tulisan tentang bedah kulit. Majalah ini kemudian menjadi Archives of Dermatology and Syphilology, dan selanjutnya berubah menjadi Archives of Dermatology.
Pergeseran ke non-bedah
Sampai tahun 1920, spesialis kulit melakukan bermacam-macam operasi kulit. S. Noel seorang spesialis kulit Perancis, menjadi terkenal di dunia karena melakukan operasi face lift dan blefaroplasti serta menerbitkan buku tentang bedah estetik.3 Pada waktu bersamaan, dokter gigi dan spesialis bedah yang mendalami rekonstruksi kepala dan leher mulai mempelopori spesialisasi bedah plastik.4 Pada tahun 1930 dan 1940, spesialis kulit berangsur-angsur lebih mengkonsentrasikan diri kepada pengobatan non-bedah (medikal) dan radioterapi untuk berbagai jenis penyakit kulit; seperti tumor, bahkan dermatitis dan akne serta banyak penyakit kulit lain. Spesialis bedah plastik lalu melakukan hampir semua rekonstruksi jaringan lunak.
Bedah kulit lahir kembali
Setelah perang dunia kedua, spesialis kulit kembali berminat kepada bedah kulit. Banyak yang kembali dari perang memperoleh pengalaman luas di bidang teknik bedah. Di samping itu perhatian masyarakat terhadap bedah untuk penampilan fisik meningkat cepat. Pada tahun 1960 spesialis kulit memperkenalkan dermabrasi, transplantasi rambut dan kelupas kimia (chemical peeling). Pada tahun yang sama spesialis kulit juga menemukan bedah kulit laser dan menciptakan berbagai sistem laser. Perkumpulan bedah kulit dan kegiatan pendidikan bedah kulit meningkat dengan cepat; graft dan flap diajarkan di mana-mana. Saat ini spesialisasi penyakit kulit secara global berubah menjadi spesialis medico-surgical seperti halnya otolaringologi dan oftalmologi. Dalam memasuki milenium ketiga, apa yang dapat ditawarkan oleh bedah kulit untuk pengobatan penyakit dan memperbaiki penampilan (kosmetik) ? Banyak kemajuan ilmu pengetahuan tentang teknik bedah kulit yang ditemukan oleh spesialis kulit dan yang diterapkan dari spesialisasi lain. Dapat disebutkan teknik bedah kulit antara lain: chemical peeling, dermabrasi, bedah listrik, bedah beku (cryosurgery), transplantasi rambut, augmentasi jaringan lunak, transplantasi lemak, bedah laser, sedot lemak tumsesn, flebologi, bedah Mohs dan rekonstruksi kulit, toksin botulinum (Botox), blefaroplasti dan ritidektomi.
Blefaroplasti dan ritidektomi
Walaupun S. Noel seorang dokter kulit telah melakukan blefaroplasti pada tahun 1920,5 namun kemudian blefaroplasti tidak dilakukan lagi oleh dokter kulit sampai tahun 1980 kecuali di Jerman dan Swiss. Setelah tahun 1980, karena pengalaman dokter kulit bertambah luas di bidang bedah, kembali blefaroplasti dikerjakan oleh dokter kulit. Selain blefaroplasti laser, dilakukan juga blefaroplasti transkonjuntivital. Sedot lemak dengan ritidektomi dipraktekkan pula oleh dokter kulit.
Bedah kulit di Indonesia
Bedah kulit dii Indonesia dimulai pada tahun 1978. Pada tahun itu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi membuat keputusan bahwa pendidikan untuk menjadi spesialis penyakit kulit dan kelamin termasuk pendidikan bedah kulit. Keputusan tersebut tercantum dalam Katalog Pendidikan Spesialis Penyakit Kulit dan Kelamin. Pada waktu itu bedah kulit belum diajarkan secara luas dan mendalam dalam pendidikan spesialis. Untuk meningkatkan pendidikan bedah kulit agar lebih intensif dibentuk Perkumpulan Bedah Kulit Indonesia, yang diizinkan pemerintah melakukan kegiatan di seluruh Indonesia. Perkumpulan Bedah Kulit Indonesia (PERBEKI) adalah organisasi profesi yang diakui pemerintah, terdaftar di Departemen Dalam Negeri menurut ketentuan Undang-undang No.8 tahun 1985, dan juga terdaftar di Departemen Kesehatan. PERBEKI adalah anggota Council for National Dermatologica Societies, International Society for Dermatologic Surgery dan didukung oleh American Society for Dermatologic Surgery dan European Society for Dermatologic Surgery. Di samping itu PERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin) membentuk KSBK (Kelompok studi bedah kulit) yang melakukan kegiatan pendidikan bedah kulit. Kedua wadah tersebut yaitu PERBEKI dan KSBK sebaiknya bekerjasama memajukan pendidikan bedah kulit di Indonesia. Dalam rangka memajukan bedah kulit di Indonesia dan agar semua spesialis kulit menguasai pengetahuan dan ketrampilan bedah kulit maka bedah kulit dasar perlu ditetapkan sebagai mata pelajaran yang diwajibkan untuk para peserta program pendidikan spesialis kulit dan kelamin.
Kesimpulan
Bedah kulit dan kosmetik telah menjadi subspesialisasi dari Spesialisasi penyakit kulit dan kelamin. Pendidikan bedah kulit terus dilanjutkan hingga sekarang mulai bertambah banyak dokter kulit yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan bedah kulit. Bedah kulit dan kosmetik mengalami perubahan global dan kita harus siap menghadapi era milenium ketiga agar tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain di dunia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Coleman WP III, Hanke CW. The history of dermatologic surgery. Dalam: Coleman WP III, Hanke CW, Alt TH, Asken S, editor. Cosmetic Surgery of the skin. Edisi ke-2. St. Louis: Mosby, 1997: 1-6. 2. Szymanski PJ. Centennial history of American Dermatology Association. 1876-1976. American Dermatology Association Inc. Chicago, 1976. 3. Noel AS. La chirurgie esthetique. Dalam: Mason et al, Son Role Social, Paris: 1926. 4. Randall P, McCarthy JG, Wray RC. History of the American Association of Plastic Surgeons, 1921-1996. Plast Reconstr Surg 1996; 96: 1254-92. 5. Noel AS. La chirurgie esthetique. Dalam: Masson et al. Son Role Sociale. Paris 1926.
|