Dermatologi Anak (Pediatric Dermatology) telah berkembang sejak setengah abad lalu. Salah satu “founding father” ilmu tersebut adalah Dr. Sidney Hurwitz (Yale University, USA) yang sejak tahun 1969 berdedikasi terhadap perkembangan penelitian, ilmu pengetahuan dan penatalaksanaan kelainan kulit pada anak. Penyakit kulit pada bayi dan anak mencakup berbagai macam kelainan, mulai dari yang diturunkan (herediter) maupun kongenital, infeksi, peradangan, gangguan perkembangan, penyakit imunologik, penyakit metabolisme, sampai tumor/keganasan. Ditinjau dari beberapa aspek, kelainan kulit pada bayi/anak dapat berbeda dengan penyakit yang sama pada anak lebih besar maupun orang dewasa. Diagnosis dan terapi penyakit kulit pada bayi/anak dapat membingungkan karena adanya pola reaksi yang lebih sensitif, kecenderungan lebih mudah timbul lepuh, serta dosis dan rejimen pengobatan yang seringkali berbeda dengan orang dewasa. Sejak 10 tahun terakhir dermatologi anak telah banyak berkembang. Pengetahuan mengenai dasar molekular berbagai penyakit kulit bayi/anak serta bermacam sindrom yang disertai kelainan kulit telah banyak terungkap. Beberapa penyakit baru dan hubungannya dengan sindrom telah diketahui. Rejimen pengobatan untuk penyakit kulit bayi/anak bertambah luas dengan diketahuinya mekanisme berbagai penyakit sehingga bermacam obat baru tersedia. Beberapa perkembangan tersebut akan dikemukakan berikut ini. Banyak kemajuan telah didapatkan dalam bidang genetika molekular. Informasi baru tentang etiologi/patogenesis penyakit menyebabkan perubahan klasifikasi penyakit, misalnya pada displasia ektodermal. Sampai akhir abad ke-20 klasifikasi displasia ektodermal didasarkan pada gambaran klinis karena kurangnya pengetahuan mengenai aspek molekularnya. Dengan telah diketahuinya dasar molekular beberapa jenis displasia ektodermal, penyakit ini dapat dikategorikan berdasarkan defek/mutasi pada nuclear factor kB (NF-kB) signaling pathways (misalnya displasia ektodermal hipohidrotik dominan autosomal), faktor transkripsi (sindrom ectrodactyli-ectodermal dysplasia-clefting/ EEC karena mutasi p63), protein gap junctions (displasia ektodermal hidrotik/ sindrom Clouston), dan molekul adesi/struktural (pakonikia kongenital). Kulit merupakan target yang baik untuk terapi gen, baik untuk penyakit kulit maupun sistemik, karena mudah dicapai, walaupun fungsi sawarnya dapat menghambat insersi gen ke dalam sel kulit. Banyak penelitian preklinis berhasil mengobati berbagai penyakit kulit dengan terapi gen kulit melalui berbagai pendekatan, mulai dari memperbaiki kelainan kulit genetik sampai pengobatan penyakit sistemik, kanker, serta mempercepat penyembuhan luka. Penemuan adanya mutasi pada sistem protein gen yang mengalami kelainan merupakan dasar pengembangan terapi gen kulit, misalnya pada epidermolisis bulosa yang disebabkan kelainan pada jaringan sitokeratin atau protein yang terlibat dalam adesi dermo-epidermal. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk penerapan klinisnya, misalnya bagaimana mentargetkan gen terapeutik pada sel-sel spesifik. Dermatitis atopik masih merupakan salah satu penyakit kulit yang banyak didapatkan pada bayi dan anak, bahkan pada beberapa dekade terakhir insidensnya cenderung meningkat. Dengan ditemukannya obat golongan penghambat kalsineurin topikal, tersedia pilihan antiinflamasi topikal selain kortikosteroid yang dapat mengurangi timbulnya efek samping lokal maupun sistemik yang sering timbul pada penggunaan kortikosteroid topical secara salah. Banyak obat baru lainnya yang sedang diteliti untuk mengatasi dermatitis atopik yang rekalsitran, antara lain pemberian kompleks antigen-antibodi yang dibuat dari D.pteronyssimus dan antibodi autolog spesifik fragmen F(ab’)2. Selain itu, berdasarkan “hipotesis hygiene” yang menyatakan bahwa kurangnya pajanan terhadap beberapa infeksi (antara lain mikrobakteria) selama masa anak sehingga imunitasnya kurang berkembang telah meningkatkan prevalensi atopi, pemberian vaksinasi dengan suspensi Mycobacterium vaccae terbukti efektif pada dermatitis atopik. Cara kerjanya dengan meningkatkan respons Th1, menurunkan produksi Th2, dan mengaktivasi sel T regulator. Suatu penelitian fase 2, multisebter, sedang berjalan untuk menilai efektivitas dan keamanan pengobatan ini. Laser banyak digunakan untuk mengobati berbagai kelainan kulit saat ini. Anak-anak masa kini lebih memperhatikan penampilannya sehingga adanya kelainan kulit, misalnya pigmentasi atau tumor, dapat menyebabkannya sedih atau susah. Pengobatan untuk memperbaiki penampilan anak dapat mengurangi olok-olok temannya serta meningkatkan hasil belajarnya. Pengobatan dengan laser lebih banyak keuntungannya dibandingkan dengan teknik bedah konvensional. Hasilnya biasanya lebih baik dan mengerjakannya lebih cepat, walaupun seringkali dibutuhkan pengobatan berulang. Pengobatan café au lait dengan laser pigmen dapat menghilangkannya, walaupun dapat kambuh. Laser cutting atau resurfacing mempunyai keunggulan, yaitu menghentikan perdarahan di dasar luka sehingga mengurangi risiko perdarahan pasca operasi. Lesi kulit yang diobati dengan laser jarang kambuh. Hal yang penting untuk diperhatikan pada pengobatan dengan laser pada anak adalah adanya perawat anak yang terlatih. Hanya dengan perawatan yang hati-hati, laser dapat digunakan dengan aman pada anak, misalnya penggunakan penutup mata. Karena pengobatan laser memerlukan pengobatan berulang, keadaan psikologis anak perlu diperhatikan. Obat-obat untuk mengurangi nyeri sangat penting, mulai dari krim anestetik lokal sampai anestesia umum. Sangat dianjurkan untuk melindungi kulit sehat di sekitarnya dengan kain kasa basah. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam menangani bayi/anak dengan kelainan kulit adalah perawatan kulitnya. Hal tersebut memerlukan penanganan oleh perawat ahli yang dapat melakukan perawatan maupun memberikan nasehat perawatan kulit kepada orangtua pasien. Perawat tersebut memegang peranan penting dalam penatalaksanaan kelainan kulit pada bayi/anak. Sejak dua dekade terakhir, di beberapa negara terdapat perawat spesialis dalam bidang dermatologi anak yang sangat berperan dalam perawatan kulit kelompok usia ini. Peranan mereka berkembang sampai mengepalai klinik-klinik perawatan kulit anak dan membuat resep untuk obat-obat tertentu. Contohnya di Inggris, terdapat British Dermatological Nursing Group yang berafiliasi dengan British Association of Dermatologists. Kapan hal seperti ini dapat terjadi di Indonesia ?
DAFTAR PUSTAKA
1. Harper J. Oranje A, Prose N (ed). Textbook of Pediatric Dermatology. Edisi ke-2. Oxford: Blackwell Publ Ltd 2006. 2. Paller AS, Mancini AJ. Urwitz Clinical Pediatric Dermatology. Edisi ke-3. China: Elsevier Inc, 2006. 3. Cohen BA. Pediatric Dermatology. Edisi ke-3. China: Elsevier Inc. 2005.
|